Si Tunggal Pemimpi
Dikala hujan deras malam itu, Seorang wanita ternyata ikut meneteskan air yang berasal dari matanya. Berdiri di pekarangan rumahnya, menatap langit yang tak henti meneteskan air hingga membasahi seluruh pakaiannya. Namun ternyata dibalik itu Ia sedang menutupi kesedihannya.
Bertanya kepada Tuhan mengapa Ia dilahirkan ketika usia ibu dan bapaknya berkepala 4? Mengapa Tuhan menjadikannya anak tunggal?. Wanita itupun berteriak di bawah hujan deras itu, berharap Tuhan menjawabnya.
“Aku ingin kuliah di Edinburgh ya Tuhan, tapi mengapa Engkau membuatku ada dipilihan ini.” Teriaknya keras berharap Tuhan menanggapi ucapannya itu.
“HEIII MAYSA, mandi hujan malam-malam begini, kau akan demam nanti!.” teriak seorang wanita paruh baya yang menghampirinya sambil menggunakan payung. Ternyata itu ibunya yang terbangun karena teriakan putrinya.
“Apa yang kau pikirkan Maysa? Kenapa kau melakukan itu?.” Oceh sang ibu memenuhi rumah yang membuat bapak terbangun dari tidur lelapnya. “Ya Tuhan! Putriku kau akan sakit jika begini, cepatlah mandi!.”suruh sang bapak membuat putrinya pergi ke kamar mandi tanpa menjawab pertanyaan dari ibunya.
Setelah mandi pun ternyata wanita yang bernama Maysa itu masih memandangi hujan lewat jendela kamarnya hingga Ia tertidur lelap setelah air matanya habis. Ia membawa kesedihan dan kebimbanganya ke dalam tidurnya itu. Lagi dan lagi Ia hanya bisa merasakan langit Edinburgh lewat mimpinya saja.
***
Sinar matahari pun tiba menyambutnya di jendela kamar, mata coklat wanita itu terbuka lebar. Ia mendudukan dirinya di tempat tidur, memandangi matahari sambil bercakap pada dirinya sendiri.“Aku ingin menjadi wanita yang bersinar seperti itu.” Ucap wanita itu penuh tekad. Hari berganti, namun tidak dengan tekadnya.
Jam sudah menunjukan pukul 8:00, tidak ada rasa panik kesiangan yang dirasakan wanita berusia 18 tahun itu karena Ia sudah resmi lulus dari SMA. Kini hari-harinya hanya diisi dengan pikiran bimbangnya menentukan pilihan antara harus mengejar mimpinya atau menetap bersama orang tuanya.
Maysa mulai merasa bosan,Ia tidak tahan karena berdiam diri di rumah membuatnya selalu ingin mengugurkan mimpinya itu. Saat itu Ia langsung bergegas untuk mandi, Ia berencana untuk berjalan di taman komplek sambil menikmati angin sejuk pagi. Namun, saat wanita itu keluar dari kamarnya, ibunya berkata.“Maysa ayo ikut ibu dan bapak ke Pantai!.”
“Kapan bu?”. Tanya wanita itu kepada ibunya.
“Jam 10 kita berangkat, kita jalan-jalan dulu sama bapak, mau ya!.” Lanjut sang ibu.
“Ayo nak! Kita piknik sambil nikmatin sunset. Seru loh…” Rayu sang bapak kepada putrinya.
“Oke deh, kalo gitu Maysa siap-siap dulu ya!.” Ucap wanita itu mengiyakan ajakan ibu dan bapaknya. Tak terasa langit pun sudah terlihat berwarna jingga, kini keluarga kecil itu tengah menikmati pandangan indah yang disertai suara deruan ombak yang membuat tenang. Wanita itupun memberanikan diri untuk diskusi dengan kedua orang tuanya mengenai kegelisahan yang Ia alami akhir-akhir ini.
“Pak Bu, Maysa mau cerita.” Ucap wanita itu tiba-tiba, membuat kedua orang tuanya kini mengalihkan pandangan dari pemandangan matahari terbenam yang indah itu.
“Iya nak, mau cerita apa sayang?.” Jawab suami istri itu kompak menanggapi anaknya.
“Maysa keterima di Edinburgh University dengan beasiswa penuh hingga lulus pak bu. Tapi Maysa bimbang, kalo Maysa ambil kesempatan ini, bapak sama ibu siapa yang jagain? Maysa kan anak tunggal. Apalagi bapak sama ibu kan sudah ga lagi muda. Tapi Maysa pengen banget kuliah di sana pak bu, Maysa udah lama mimpikan ini.” Cerita wanita itu panjang lebar.
“Hemm nak, kenapa kabar baik seperti ini baru kamu certain? bapak sama ibu tentunya seneng banget kamu bisa kuliah di universitas impian kamu nak. Kamu itu anak kami nak, kami akan selalu dukung apapun yang kamu lakukan selagi itu hal positif. Ya.. walaupun sebenernya kami berat buat ngelepas anak kami satu-satunya sejauh itu.” Ucap sang bapak menenangkan putrinya.
“Betul kata bapak Maysa, kamu ga perlu khawatirkan kami. Kami ini pasangan jadi bisa saling menjaga. Kamu ambilah nak kesampatan emas ini, dan jaga diri baik-baik di sana. Dan jangan lupa setiap hari telepon ibu dan bapak ya! Ibu dan bapak bangga banget punya putri seperti kamu. Kalau libur jangan lupa pulang ke Indonesia ya nak!.” Lanjut sang ibu mendukung putrinya.
Akhirnya, tibalah wanita itu berenang di dalam mimpinya. Kini Ia sudah melihat langit Edinburgh dengan matanya sendiri. Dengan perasaan yang sangat Bahagia, Ia menjalani hari demi hari dengan penuh semangat. Hingga tak terasa sudah 4 tahun Ia di Edinburgh menyelesaikan kuliahnya dan hari ini Ia resmi menyandang gelar Bachelor yang mengikuti namanya. Wanita itu kini masih tak menyangka kedua orang tuanya hadir di hari wisudanya dengan tatapan penuh kebanggaan. Dan langit Edinburgh meneteskan air seakan memberikan selamat kepada Maysa. “Terimakasih Tuhan.” Ucap wanita itu menatap langit dengan rasa bahagia sembari merangkul kedua orang tuanya di tanah Edinburgh.
…Selesai...

















